IMG-LOGO
DPMTSP

DINAS PENANAMAN MODAL & PTSP

KABUPATEN GRESIK


BERITA


PT. Freeport Bayar Kekurangan Jaminan Pembangunan Smelter



99far.jpg




Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono menyampaikan jika PT Freeport Indonesia telah membayar kekurangan jaminan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) sebesar 20 juta dolar AS.

Gatot di Jakarta, Rabu (29/7) mengatakan Freeport harus menyelesaikan kekurangan pembayaran jaminan untuk pembangunan smelter tersebut sebagai salah satu syarat perpanjangan izin ekspor konsentrat. Melalui pembayaran kekurangan tersebut Kementerian ESDM memberikan rekomendasi perpanjangan izin ekspor konsentrat.

Untuk selanjutnya Freeport sendiri yang akan melakukan pengurusan izin ekspor kepada Kementerian Perdagangan karena Kementerian ESDM hanya memberikan rekomendasi saja. Pemerintah juga akan terus memantau kemajuan pembangunan smelter untuk enam bulan kedepan.

Seperti diketahui jika Freeport tengah membangun smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur, dengan kapasitas dua juta ton konsentrat tembaga senilai 2,3 miliar dolar AS. Progres pembangunan smelter tersebut juga telah mencapai 11 persen sehingga Freeport berhak mendapatkan pengurangan bea keluar (BK) ekspor konsentrat dari 7,5 menjadi lima persen.

Kebijakan itu sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153/PMK.011/2014, jika kemajuan pembangunan smelter antara 0-7,5 persen, BK dikenakan 7,5 persen. Sedangkan, apabila progres smelter yang dihitung berdasarkan serapan dana investasi antara 7,5-30 persen, BK dikenakan lima persen. Lalu, kalau progres sudah di atas 30 persen, maka dibebaskan dari kewajiban BK atau nol persen.

Sementara itu Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin mengatakan bahwa pihaknya telah membayar kekurangan pembayaran pembangunan smelter sehingga mendapatkan rekomendasi dari Kementerian ESDM untuk memperpanjang izin ekspor konsentrat.

Freeport berharap agar bisa segera memperoleh surat persetujaun ekspor dari Kementerian Perdagangan sehingga dapat langsung melakukan kegiatan ekspor. Freeport memperkirakan akan mendapatkan izin ekspor pertama sebesar 20.000 hingga 30.000 ton dari total kuota ekspor sebanyak 775.000 ton.

Langkah yang dilakukan oleh Freeport ini menunjukkan komitmen kuat untuk terus berinvestasi di Indonesia seperti yang pernah disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo. Selain membangun smelter, Freeport juga telah menyiapkan dana investasi sebesar 15,5 miliar dolar AS untuk pembangunan pertambangan bawah tanah.

Investasi yang dilakukan Freeport ini diharapkan juga berdampak positif bagi daerah di tempat Freeport berada melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan peningkatan penggunaan kandungan dalam negeri. Dengan begitu Freeport dapat berkontribusi besar bagi perkembangan dan pertumbuhan perekonomian daerah.

Source : http://beritadaerah.co.id